Tampilkan postingan dengan label sholat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sholat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Juni 2016

Sahkah Puasa Orang Yang Tidak Mengerjakan Shalat Kecuali Di Bulan Ramadhan


Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

Pertanyaan: Ini ada surat yang berasal dari Sa'id Ahmad Baghdady dari Makkah al-Mukarramah, dia mengatakan, "Seseorang yang tidak mengerjakan shalat kecuali di bulan Ramadhan, apakah puasanya sah ataukah tidak?"

Jawaban: Orang yang tidak mengerjakan shalat kecuali di siang hari bulan Ramadhan, jika shalatnya di siang hari bulan Ramadhan sebagai bentuk kembali kepada Allah dan sebagai bentuk taubat dari perbuatannya meninggalkan shalat sepanjang tahun serta bertekat kuat untuk terus melaksanakan shalat di sisa umurnya, maka puasanya sah, walaupun seandainya kita berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat menjadi kafir dengan meninggalkan satu kali saja shalat fardhu, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian Salaf, karena sesungguhnya taubatnya menghapus dosa-dosa sebelumnya.

Adapun jika dia mengerjakan shalat di bulan Ramadhan dan tetap berniat tidak akan mengerjakannya jika Ramadhan telah berlalu,  jika dia meyakini bahwa shalat tidak wajib selain di bulan Ramadhan, maka dia kafir dan puasanya tertolak, dan shalat yang dia kerjakan di bulan Ramadhan tidak diterima darinya.


Sedangkan jika dia meyakini bahwa hukumnya wajib, hanya saja dia terus meninggalkannya sebagai bentuk kemaksiatan kepada Allah dan kefasikan, maka puasanya diterima (sah -pent),
namun jika dia meninggalkan shalat setelah Ramadhan dikhawatirkan dia akan mati dalam keadaan seperti ini, sehingga kematiannya sangat membahayakan berkaitan dengan keadaannya; yaitu apakah dia masih seorang muslim ataukah kafir.


-Silsilah Fatawa Nuurun Alad Darb, kaset no. 26




Jumat, 10 Juni 2016

Bulan Yang Ditunggu Umat Islam, Allah Ta’ala Kasih Bonus Serta Mengobral Pahala


Sesungguhnya bulan Ramadhan yang mulia ini adalah bulan puasa dan shalat di malam harinya. Dan bulan ini adalah bulan istimewa yang khusus untuk Al-Qur’an. Sebab, inilah bulan dimana Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia baik didunia dan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah 2 : 185)

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam, karena Allah Ta’ala memberikan discount dan bonus besar-besaran serta mengobral pahala. Allah Ta’ala melipatgandakan pahala kebaikan yang dilakukan setiap manusia hingga 10 sampai 700 kali lipat.

Hal ini seperti hadits Nabi yang artinya:
“Semua amalan anak adam akan dilipatgandakan (balasannya), satu kebaikan akan dibalas dengan 10 sampai 700 kali lipat.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Kecuali puasa, sesungguhnya itu untuk-Ku, dan Aku yang langsung membalasnya. Hamba-Ku telah meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.” (HR. Muslim)

Selama bulan Ramadhan kita diperintahkan untuk selalu menegakkan ketaatan kepada Allah Ta’ala, disamping melaksanakan kewajiban puasa. Banyak amal ibadah yang kita lakukan sebagai wujud menegakkan bulan Ramadhan, diantaranya yaitu shalat qiyamul lail dan membaca Al-Qur’an.
Sebagaimana yang dituliskan oleh Imam Al-Shan’any dalam kitabnya Subulus-Salam,
“Menegakkan bulan Ramadhan, yaitu menegakkan malam bulan Ramadhan dengan shalat atau membaca Al-Qur’an.” (Juz II, hlm: 173)

Ketika sudah masuk pada bulan Ramadhan seperti sekarang ini, semua orang setiap habis shalat ashar, shalat tarawih, dan bahkan shalat subuh, mereka akan berlomba-lomba untuk membaca Al-Qur’an dan sebanyak mungkin untuk mengkhatamkannya. Di mushola dan masjid, suara membaca Al-Qur’an silih berganti terdengar. Memang membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan berbeda ketika dibaca di sebelas bulan yang lain. Di bulan-bulan biasa ketika membaca satu huruf, kita akan diberi balasan pahala dengan sepuluh kebaikan. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang membaca satu huruf dalam kitab Allah, maka baginya satu kebaikan, dan setiap kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Oleh sebab itu, perbanyaklah membaca Al-Qur’an itu, baik di luar shalat maupun di dalam shalat, seperti pada saat shalat tarawih. Semakin banyak jumlah ayat Al-Qur’an yang dibaca dalam shalat tarawih, maka semakin baik. Meskipun membaca surat selain Al-Fatihah di dalam shalat adalah suatu perbuatan yang bersifat anjuran atau sunnah, namun bagi setiap orang yang membaca Al-Qur’an dalam shalat tarawih, akan mendapatkan balasan pahala yang besar. Sebab satu amalan sunnah pada bulan Ramadhan, bernilai seperti satu amalan wajib di luar Ramadhan.

Membaca Al-Qur’an di luar shalat saja pahalanya besar, apalagi di dalam shalat, dan apalagi pada bulan Ramadhan, tentu Allah akan memberikan pahala yang berlipat ganda.
Apabila Rasulullah melaksanakan qiyam Ramadhan atau shalat tarawih, beliau memperpanjang bacaan Al-Qur’an, lebih panjang daripada shalat-shalat yang lain. Beliau pernah shalat malam pada bulan Ramadhan, di dalam shalat itu beliau membaca surat Al- Baqarah, An-Nisa dan Ali-‘lmran. Setiap kali beliau berjumpa ayat tentang ancaman, beliau berhenti sejenak untuk memohon perlindungan. (HR. Muslim, dari Hudzaifah bin Yaman)

Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim ad-Dari untuk mengimami shalat pada bulan Ramadhan. Mereka membaca sebanyak 200 ayat dalam satu rakaat, sehingga para sahabat bersandar (berpegangan) pada tongkat mereka, karena lama berdiri. Shalat baru selesai menjelang fajar. Disebutkan dalam satu riwayat, bahwa ada pula yang memasang tali di antara tiang-tiang masjid, kemudian mereka berpegangan pada tali tersebut.

Pernah juga Umar bin Khaththab mengumpulkan tiga orang penghafal Al-Qur’an, untuk menjadi imam shalat tarawih. Yang paling cepat bacaannya, beliau perintahkan untuk membaca 30 ayat pada setiap rakaat shalat tarawih. Yang bacaannya sedang, diperintahkan membaca 25 ayat pada setiap rakaat. Sedangkan yang paling lambat bacaannya, diperintahkan membaca 20 ayat setiap rakaat.

Pada masa tabi’in (masa setelah sahabat Nabi), biasanya kalau mereka melaksanakan shalat tarawih, mereka menghabiskan bacaan surat Al-Baqarah seluruhnya, dalam 8 rakaat shalat. Jika ada imam yang membaca seluruh surat Al-Baqarah dalam 12 rakaat, mereka beranggapan bahwa imam telah memperpendek bacaan shalatnya.

Memang, sesungguhnya jumlah ayat Al-Qur’an yang dibaca dalam shalat tarawih tidaklah harus seperti yang digambarkan di atas. Sebab kemampuan setiap orang berbeda-beda. Akan tetapi, sangatlah bagus dilakukan jika mampu melakukan seperti itu. Gambaran di atas menunjukkan bahwa betapa agungnya membaca Al- Qur’an itu pada bulan Ramadhan, apakah ketika shalat, terutama pada qiyam Ramadhan (shalat tarawih), maupun di luar shalat.

Demikian pula dengan membaca Al-Qur’an di luar shalat pada bulan Ramadhan. Di antara ulama masa lalu, ada yang mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an setiap dua hari dalam bulan Ramadhan. Berarti selama sebulan Ramadhan, beliau mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an sebanyak 15 kali. Ada ulama, seperti An-Nakha’i yang mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an setiap tiga hari. Ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an setiap 3 hari, tapi pada 10 hari terakhir Ramadhan, ia khatam setiap hari.

Menurut sebuah riwayat, bahwa Imam Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, di luar shalat, sebanyak 60 kali. Demikian juga yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah. Subhaanallah. Apabila telah datang bulan Ramadhan, maka Imam Malik menghentikan sementara kegiatan membaca hadits-hadits dan belajar kepada para ulama, lalu berkonsentrasi untuk membaca Al-Qur’an.

Demikianlah perhatian yang sangat besar diberikan oleh orang-orang shaleh, oleh para ulama terhadap Al-Qur’an pada bulan Ramadhan. Begitu pula kaum Muslimin pada umumnya, meskipun jumlah mereka mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan, masih jauh di bawah para ulama tersebut. Namun risalah singkat ini semoga bisa menjadi pemacu dan pemicu kita semua untuk semakin banyak membaca Al-Qur’an dibulan Ramadhan 1437 H ini. Wallahu a’lam…


Oleh: Ustadz Abu Raihan



Jumat, 03 Juni 2016

Buka Puasa Bersama Sambil Reunian


Sesuatu yang sering kita jumpai di Bulan Ramadhan adalah buka bersama (bukber). Biasa dilakukan dengan teman lama, teman sekolah sambil bereuni atau dengan teman komunitas. Sebagai nasihat dan moga bisa dipertimbangkan ketika mengadakan buka bersama. Berikut beberapa kerusakan yang sering terjadi :

1. Lebih mementingkan mengisi perut dan jalin ukhuwah daripada shalat.

2. Ngobrol, haha hihi sampai Isya, kadang Shalat Maghrib ditinggalkan. Padahal meninggalkan satu shalat saja bisa menghapuskan amalan.

“Barangsiapa meninggalkan Shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya.”
(HR. Bukhari no. 594)

Kalau disebut menghapus amalan, berarti meninggalkan shalat bisa menghapus amalan puasa. Na’udzu billahi min dzalik..!

3. Shalat jama’ah pun ditinggalkan. Cuma karena lebih mementingkan kebersamaan di meja makan dengan teman-teman.

Lihat peringatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagi pria yang enggan berjama’ah,

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah Shalat Isya dan Shalat Shubuh. Seandainya mereka tahu keutamaan yang ada dalam kedua shalat tersebut tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak. Sungguh aku bertekad untuk menyuruh orang melaksanakan shalat. Lalu shalat ditegakkan dan aku suruh ada yang mengimami orang-orang kala itu. Aku sendiri akan pergi bersama beberapa orang untuk membawa seikat kayu untuk membakar rumah orang yang tidak menghadiri shalat Jama’ah.”
(HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651, dari Abu Hurairah)

4. Yang paling sering nih, shalat tarawihnya pun ditinggalkan sehingga tidak mendapat pahala shalat semalam suntuk bersama imam. Dari Abu Dzar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,


“Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka ia dihitung mendapatkan pahala shalat di sisa malamnya.”
(HR. Ahmad 5 : 163. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

5. Kadang campur baur antara laki-laki dan perempuan. Padahal sejak dalam shalat jama’ah saja kita sudah diperintah memisahkan antara laki-laki dan perempuan supaya tidak timbul fitnah.

Kalau mau bukber, saran kami, shalat Maghrib, Isya dan Tarawihnya tidak ditinggalkan dong. Ukhuwah kok lebih dipentingkan daripada hak Allah? Emang Allah yang memberi keselamatan ataukah teman-teman..?

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.




Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal
sumber


Sabtu, 26 Maret 2016

10 Kiat Menggapai Cinta Allah


Sepuluh Kiat Menggapai Cinta Allah..
[Disarikan dari kitab "Madarijus Salikin" karya Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah]

1. Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur dan memahaminya dengan baik.
2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah sesudah menunaikan ibadah wajib.
3. Selalu dzikirullah (mengingat dan berdzikir kepada Allah ) dalam segala kondisi dengan hati, lisan dan perbuatan.
4. Mengutamakan kehendak Allah di saat berbenturan dengan kehendak hawa nafsu.
5. Menanamkan dalam hati nama-nama dan sifat-sifat Allah dan memahami maknanya.
6. Memperhatikan kebaikan, karunia dan berbagai nikmat Allah kepada kita yang lahir dan batin.
7. Menundukkan hati dan diri secara total ke haribaan Allah serta merasa hina di hadapanNya.
8. Menyendiri untuk beribadah kepada Allah, bermunajat dan membaca firmanNya serta khusyu' sepenuh hati dengan adab seorang hamba di sepertiga malam terakhir kemudian ditutup dengan istighfar.
9. Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang yang cinta Allah dan jujur dalam cintanya, mengambil hikmah dan ilmu dari mereka.
10. Menjauhkan semua sebab yang dapat memisahkan hati dengan Allah..


spread the loveshare it for the sake of Allah 🏴

Senin, 01 April 2013

Remaja Inggris berbondong-bondong memeluk Islam



LONDON – Menurut studi terbaru, di Inggris, selama 6 tahun terakhir, jumlah umat Islam telah berkembang sebesar 37% dan jumlah masjid sudah mencapai hampir 1.500, termasuk banyaknya mushola. Berdasarkan data British Institute of Gatston, rata-rata, ratusan warga Inggris masuk Islam setiap bulannya, Al-Jazeera melaporkan. 


Jumlah mualaf sangat terlihat di dalam penjara, dan jumlah remaja yang masuk Islam di sekolah, seperti dilansir KC pada Sabtu (30/3/2013).

Koresponden Al-Jazeera mengunjungi beberapa masjid dan pusat Islam di London dan menemukan bahwa diantara sejumlah mualaf terdapat begitu banyak remaja, termasuk mereka yang berasal dari Brazil, Luksemburg, dan Swedia. 

Koresponden tersebut berbicara dengan Alexandra (12), putri dari Lauren Booth, yang merupakan adik ipar mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair. Gadis itu mengatakan bahwa memeluk Islam telah mengubah ibunya dan dia memutuskan untuk mengikuti teladan sang Ibu juga. Alexandra menjadi Muslim pada Ramadhan lalu. 

Perlu diingat bahwa setiap tahun sekitar 5000 orang Inggris masuk Islam. Hal ini juga dilaporkan oleh presenter dan wartawan TV di London, Christian Backer, menurut BNews.kz.

“Di Inggris, lima ribu warga Inggris dalam setahun masuk Islam. Di negara-negara Eropa lainnya juga dilaporkan angka-angka serupa. Uniknya, sebagian besar mualaf adalah perempuan kulit putih, kelas menengah, dan kaum terpelajar. Mereka semua setuju bahwa Islam adalah agama yang benar, yang memberi mereka nilai, cara hidup yang tidak mereka temukan dalam peradaban Barat, nilai-nilai tradisional dan peran perempuan, yang dalam peradaban Barat sebagian besar telah sirna,” katanya. 


Sumber

Kamis, 26 Januari 2012

Shalat Bikin Cerdas



Sholat itu bikin otak kita sehat, "Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah" (Q.S Al Kautsar:2)

Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita ?


Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya didalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu ia telah membuka sebuah klinik yang bernama "Pengobatan Melalui Al Qur'an". Kajian pengobatan melalui Al-Quran ini menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antaranya adalah madu, biji hitam (Jadam), dan sebagainya serta melaksanakan puasa.
Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukannya, terdapat beberapa urat saraf didalam otak manusia ini yang tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal. Setelah membuat kajian yang memakan waktu akkhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf didalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud.
Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang diwajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah.
          Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya ini untuk bisa berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam "sepenuhnya" karena sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.


Kesimpulannya : Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang apalagi bukan yang beragama Islam, walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal.


Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial masyarakat saat ini.
Wallahu'alam bishawab